Senin, 18 Mei 2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
            Jumlah spesiaes ikan di dunia sedah teridentifikasi menurut Lagler et al (1977) ada 20.000 spesies, akan tetapi diperkirakan jumlah spesies ikan itu ada 40.000. Indonesia merupakan Negara maritim yaitu Negara yang ¾ bagiannya merupakan daerah Laut. Selain perairan laut, ada juga perairan yang juga terdapat di Negara Indonesia yaitu sungai, danau, dan waduk. Dapat kita bayangkan bahwa dari banyaknya perairan yang ada di Negara Indonesia akan memiliki sumber daya perairan yang beranekaragam sehingga dapat diolah baik dari jenis ikan-ikanan maupun dari hewan-hewan air lainnya.
            Spesies ikan yang terdapat di Provinsi Riau ini diperkirakan mencapai 700 spesies yang tersebar di empat sungai besar (sungai Rokan, Kampar, Siak, Kampar dan Indragiri), 11 sungai kecil lainnya dan perairan selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
Perikanan adalah suatu usaha atau kegiatan manusia untuk memanfaatkan sumber daya perairan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang hidup pada daerah perairan laut maupun perairan tawar yang apabila diolah akan menambah sector pendapatan  bagi orang /badan yang mengelola hasil perikanan ini.
            Pengetahuan tentang pengenalan ikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam Ikhtiologi khususnya dalam kegiatan melaksanakan identifikasi, sehingga berdasarkan data yang telah diuraikan dapat dengan mudah mengelompokkan jenis-jenis ikan yang masih termasuk satu golongan ataupun pada ikan yang berlainan jenis maupun golongan. Pengenalan tehadap ikan-ikan dapat juga dilihat pada morfometrik tubuh ikan. 
 1.2 TUJUAN MENFAAT
        Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui lebih mendalam tentang penggolongan ikan berdasarkan bagian-bagian tubuhnya yang terdiri dari bagian tubuh rostral, caudal, medial, lateral, dorsal, ventral, proximal dan distal terhadap jenis spesies ikan yang ada di perairan Indonesia baik ikan yang terdapat di perairan tawar maupu yang terdapat di perairan laut.
 Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah kita dapat mengenal morfologi spesies ikan berbeda. Sehingga diharapkan mahasiswa dapat mengenal morfologi ikan-ikan dari spesies yang berbeda namun masih tergolong ke dalam satu famili karena adanya kemiripan pada bentuk tubuhnya.Selain itu, mahasiswa dapat membedakan ikan yang berahang (Gnathostomata) maupun ikan yang tidak berahang (Agnat



BAB III

MATERI METODA

3.1 waktu dan tempat
         
    Praktikum Ikhtiologi mengenai “morfologi dan meristik” dilaksanakan pada hari juma’at tanggal 17 april 2015, bertempat di Laboratorium peternakan Universitas jambi.
3.2  materi
Alat yang di gunakan saat pratikum yaitu tissu , penggaris , kertas double polio ,buku penuntun pratikum ,alat tulis , talenan , nampan , pisau cater,ikan yang di gunakan ikan patin ,ikan mas , ikan nila ,ikan lele , ikan tongkol
3.3 metode
Dalam praktikum ini pertama sekali kita mencari ikan yang telah sebutkan oleh asisten. Ikan yang telah diletakkan di atas nampak diamati. Kemudian gambar morfologi ikan tersebut dibuku gambar lengkap dengan  klasifikasinya dan keterangan bentuk tubuh serta bagian luar dari tubuh ikan-ikan tersebut. Setelah itu, ukur ikan yang meliputi TL, SL, dan Bdh. Selanjutnya amati ikan apa saja yang memiliki sirip tambahan maupun ciri-ciri yang membedakannya dengan ikan lain. Apabila ada catat pada buku gambar dengan dipandu oleh buku penuntun praktikum yang ada. Kemudian menggambar morfologi ikan tersebut di buku gambar dengan  keterangan. Selanjutnya dikasi deskripsinya mulai dari kepala sampai ekor. Selanjutnya menuliskan klasifikasi dari masing-masing ikan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

             Morfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk luar tubuh suatu makhluk hidup atau suatu organisme. Pada ikan  Morfologi (bentuk luar) dari ikan ini dapat dilihat secara jelas dan dapat dibedakan bagian-bagian tubuhnya. Secara historis, morfologi ikan merupakan sumber utama informasi untuk studi taksonomi dan evolusi. (Mahardono, 1979)
         Tubuh ikan tersusun atas tiga bagian, yaitu: kepala, batang tubuh, dan ekor.  Tubuh ikan tuna adalah simetri dua, bentuk demikian berarti terdiri  atas dua belahan yang sama, apabila tubuh ikan dibelah dua dari kepala ke ekor dengan arah punggung perut.  Pada ujung depan dari kepala terdapat mulut, diatas mulut terdapat cekung hidung, pada sebelah menyebelah kepala terdapat mata, antara bagian kepala  dan batang tubuh terdapat tutup insang.  (Mahardono, 1979).
Morfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk dan bagian-bagian luar ikan, dan termasuk bagian-bagian seperti bentuk tubuh, mulut, posisi sirip perut terhadap sirip dada, bentuk sirip ekor, bentuk linea llateralis serta ciri-ciri khusus seperti finlet, skute, keel dan sebagainya ( Affandi, 1992).
Badan ikan tuna berbentuk fusiform, menandakan kecepatannya dalam pergerakannya.  Penampang lintang badan ikan tuna pada umumnya berbentuk bulat panjang atau agak membulat (Hardanto, 1979).
        Linnea lateralis pada ikan adalah suatu garis pada tubuh yang dibentuk oleh pori, jadi linnea lateralis ini dapat ditemukan pada ikan yang bersisik maupun yang tidak bersisik. Bentuk linnea lateralis umumnya bervariasi demikian juga jumlah sisik yang membentuk linnea lateralis (Manda,et.al, 2013).
Sirip  pada ikan terdiri dari sirip punggung atau dorsal (D), sirip dada atau sirip pectoral (P), sirip perut atau sirip ventral (V), sirip anus atau anal (A), dan sirip ekor atau sirip caudal (C), dari kelima sirip tersebut ada yang bersifat ganda seperti sirip perut dan sirip dada, ada juga yang bersifat tunggal seperti sirip punggung dan sirip ekor. Tidak semua jenis ikan yang ada dimuka bumi mempunyai kelima sirip tersebut secara sempurna, melainkan ada yang tidak sempurna atau lengkap. Jari jari sirip pada kelima sirip tersebut ada yang disebut jari jari lunak, jari jari keras, jari jari lemah mengeras (Manda et al, 2013).

Menurut Kottelat et al (1992 dalam Martuah, 2011), bentuk badan ikan dapat memberikan informasi yang meyakinkan mengenai ekologi dan perilakunya. Sistim anatomi ikan secara garis besar dapat dikatakan sama, tetapi karena habitat atau tepat hidupnya berbeda, tidak jarang sistim anatomi ikan terssebut dapat termodifikasi baik bentuk dan fungsinya.
BAB IV

PEMBAHASAN

       Dalam pratikum kali ini ikan yang di amati di tentukan oleh asdos untuk di amati. Adapun Jenis-jenis ikan yang dipilih oleh penulis  dalam pratikum ini adalah sebagai berikut:

1.    MORFOLOGI

a.      Morfologi ikan patin

      Bentuk   tubuh ikan patin ini sangat berfariasi yaitu mempunyai pola dasar yaitu : kepala ,badan ,ekor.
Bentuk kepala ikan patin hampir menyerupai ikan lele , berbentuk picak  dan letak mulut atau posisi mulutnya berbentuk interior.sungut ikan berfungsi sebagai alat peraba dalam mencari makanan , sungut disini berbentuk imperior  , sungut ikan patin disini berbentuk rambut , bentuk badan bagian depan menyerupai depreset  tetapi berbentuk ke seluruhan  menyerupai compreset , bentuk ekor berupa forked (berjagak)

b.      Morfologi ikan nila

      Bentuk tubuh agak memanjang dan pipih ke samping, warna putih kehitaman dan warnanya semakin terang kea rah bagian ventral atau perut. 
 Pada tubuh terdapat garis-garis vertikal berwarna hijau kebiruan, sedangkan pada sirip ekor terdapat delapan buah garis-garis melintang yang ujungnya berwarna kemerah-merahan. Mata tampak menonjol agar besar dan di tepinya berwarna hijau. 
Letak mulut terminal atau di ujung tubuh. Posisi sirip perut terhadap sirip dada adalah thoracic. Garis rusuk (Linea lateralis) terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang di atas sirip dada

c.       Morfologi ikan mas
  1. Ikan mas ini memiliki bentuk tubuh yang panjang dan pipih atau biasa di sebut dengan sebutan comprossed,
  2. Belahan mulut nya terdapat pada bagian depan kepala nya atau lebih tepat nya berada pada bagian ujung hidung nya,
  3. Gigi kerongkongan nya terdapat pada ujung mulut bagian dalam nya,
  4. Ada nya dua pasang sungut pada wilayah anterior nya,
  5. Pada seluruh bagian tubuh nya di selimuti oleh sisik,
  6. Sisik ikan mas ini memiliki ukuran yang besar, jika di bandingkan dengan sisik ikan yang lain akan sangat terlihat perbedaan nya,
  7. Bentuk ekor ikan mas ini memiliki bentuk yang berlekuk tunggal,
  8. Memiliki sirip punggung yang memanjang,
  9. Letak sirip punggung nya berseberangan dengan letak sirip perut nya,
  10. Letak sirip perut nya sangat dekat dengan sirip dada nya,
  11. Terdapat operculum dan properkulum pada sirip dada nya,
  12. Untuk menampung makanan, ikan mas menggunakan lambung palsu nya,
  13. Insang ikan mas terdiri dari beberapa bagian seperti tulang lengkung insang, tapis insang, dan lembaran daun insang.
      Karakteristik morfologi ikan mas di atas itu adalah karakteristik yang umum dan biasa di jumpai pada ikan mas pada umum nya, namun ada juga sebagian kecil dari jenis ikan mas ini yang tidak memiliki karakteristik morfologi seperti itu.

d.      Morfologi ikan tongkol
               Ikan tongkol tergolong ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin . Sirip dada melengkung, ujungnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet.

2.    Meristik
merisstik ikan tongkol

Total panjang
26 cm
Panjang baku
25 cm
Panjang kepala
6 cm
Panjang di depan sirip dorsal
8 cm
Panjang batang ekor
1,5 cm
Panjang hidung
0,5 cm
Panjang ruang antar mata
1 cm
Panjang kepala dibelakang mata
3 cm
Panjang kepala di depan mata
1,5 cm
Panjang antara mata dengan reoperkulum
3,5 cm
Panjang rahang atas
1,5 cm
Panjang rahang bawah
1,5 cm
Panjang dasar sirip dorsal
3cm
Panjang dasar jari jari keras sirip dorsal
1cm
Panjang dasar jari jari lemah sirip dorsal
2cm
Panjang dasar sirip anal
1,5cm
Panjang jari jari keras sirip anal
1 cm
Panjang jari jari lemah sirip anal
1 cm
Tinggi kepala
4,5cm
Tinggi pipi
3,5cm
Tinggi sirip dorsal
2 cm
Tinggi sirip anal
1 cm
Lebar badan
3cm
Lebar kepala
2,5cm
Lebar meta
1,5cm
Lebar bukaan mulut
1,5cm
Panjang dasar jari jari keras sirip ventral
1 cm
Panjang dasar jari jari lemah sirip ventral
0,5 cm

Meristik ikan sarden
Panjang total
19 cm
Panjang baku
16,5 cm
Panjang kepala
4,5 cm
Panjang di depan sirip dorsal
9 cm
Panjang batang ekor
2,5 cm
Panjang hidung
1,5 cm
Panjang ruang antar mata
1 cm
Panjang kepala dibelakang mata
2 cm
Panjang kepala didepan mata
1,9 cm
Panjang antara mata dengan preoperculum
3 cm
Panjang rahang atas
1,5 cm
Panjang rahang bawah
0,5 cm
Panjang dasar sirip dorsal
2,5 cm
Panjang dasar jari jari keras sirip dorsal
1,6 cm
Panjang dasar jari jari lemah sirip dorsal
0,5 cm
Panjang dasar sirip anal
2 cm
Panjang jari jari keras sirip anal
1,5 cm
Panjang jari jari lemah sirip anal
0,5 cm
Panjang sirip vectoral
1,5 cm
Panjang sirip ventral
2,5 cm
Tinggi di bawah mata
1 cm
Tinggi badan
4 cm
Tinggi batang ekor
0,8 cm
Tinggi kepala
2,5 cm
Tinggi pipi
2 cm
Tinggi sirip dorsal
1,5 cm
Tinggi sirip anal
1,5 cm
Lebar badan
4 cm
Lebar kepala
3 cm
Lebar mata
1 cm



Lebar bukaan mulut
1 cm
Panjang jari jari keras  sirip ventral
2,5 cm
Panjang dasar jari jari lemah sirip ventral
1 cm






Meristik ikan sarden  :
Jumlah jari jari sirip dorsal
12
Jumlah jari jari sirip anal
8
Jumlah jari jari sirip ventral
10
Jumlah jari jari sirip pectoral
8
Jumlah jari jari sirip caudal
10





BAB V

PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada percobaan ciri morfometrik dan meristik makan dapat disimpulkan bahwa :
 1.      Ciri morfometrik adalah ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh ikan .
 2.      Ciri meristik adalah ciri yang berkaitan dengan jumlah bagian tubuh ikan. Yakni perumusan jari-jari sirip dorsal .

5.2 SARAN
           Sebelum melakukan praktikum, hendaknya praktikan sudah menguasai dan memahami teori yang akan di praktikumkan atau cara untuk melakukan praktikum tersebut. Dan dalam melakukan praktikum, praktikan hendaknya melakukan pengamatan secara spesifik dan berhati-hati, agar tidak terjadi kesalahan dalam pengidentifikasian dan dapat memperoleh hasil yang sebenarnya .







Tidak ada komentar:

Posting Komentar